Sabtu, 26 Mei 2012

Dua-Duanya Bikin Galau



Akhir-akhir ini saya banyak menulis tentang cinta dan patah hati. Bukan berarti sedang jatuh cinta apalagi patah hati yang dua-duanya justru mendatangkan kegalauan. Biar sajalah waktu yang akan menjawab, pokoknya untuk sekarang sangat tidak diperlukan. Karena saat ini saya akan lebih banyak membutuhkan energi untuk menyusun langkah-langkah maju. Bukannya terbuang habis untuk jadi anak muda cengeng yang sedang terkena virus merah jambu. Anak muda yang labil, apalagi galau. Heheh.


Tapi jiwa anak muda memang lebih mudah terkena virus yang satu ini. Karena jiwanya yang selalu mencoba dan mencari pencitraan diri, tanpa peduli apa itu baik atau tidak. Jiwa anak muda terasa indah jikalau mereka bisa mendapatkan orang yang paling mereka sukai. Merasa senang ketika ada yang melihatnya, mengharapkan seseorang untuk menanyakan apakah sudah makan, teman untuk sms-an, telponan bahkan buat jalan-jalan sorean. Mereka seakan merasa sepi walau ditengah keramaian, seperti ada bahagian jiwa yang terpisah, sehingga mereka harus mencari bahagian yang hilang tersebut, yang sering kita dengar istilah “pacaran”.

Disaat cinta datang manisnya pun terasa nikmat sekali. Yang malas menjadi rajin, yang bodoh menjadi pintar. Tapi disaat yang sama, insomnia pun merajalela karena setiap saat sang doi selalu berputar-putar di kepala. Ia selalu terbayang-bayang hingga memejamkan mata saja, Doi masih saja terlihat jelas. namun disaat cinta itu pergi yang pasti juga mendatangkan kegalauan yang sempurna, kalo awal tidur terbayang senyumannya, maka disaat sang Doi pergi senyuman dan gayanya sudah tertanam di kepala. Bagai menancapkan paku dalam-dalam dikepala, namun disaat paku itu dicabut maka lubangnya sudah begitu dalam untuk ditutupi. Sehingga disaat cinta itu datang, semakin lama cinta itu dibenih, maka akarnya pun semakin dalam di kepala, saat ia pergi maka sungguh sangat sulit untuk mencabutnya. Hingga banyak orang yang sulit menghilangkannya hingga berbulan-bulan bahkan tahunan. Dan yang paling ektstrim disaat seseorang ingin bunuh diri.

Biarkanlah kupu-kupu itu pergi sesuka hatinya. Tak perlu dikejar dan ditangisi hanya akan membuang energi terlalu banyak. Boleh menangisi tapi tidak usah terlalu lama, karena jalan masih terlalu panjang. Bisa saja suatu saat nanti ia kembali hinggap ke bunga yang dulu pernah ia hinggap. Yang pasti semakin berharap ia kembali hanya kan menambah lama daftar duka. Karena sudah sepantasnya ia pergi. Tapi sayangnya terkadang kita lebih banyak menangisi orang yang pergi dalam diri kita, tapi tidak pernah mensyukuri orang yang tak pernah pergi di sisi kita, mereka yang selalu memberi kita semangat, doa dan harapan. Seberapa banyak luka yang kita tanamkan, tapi masih ada yang tetap bersama dan menyayangi kita. Saat ada yang tak peduli pada kita, ternyata ada yang begitu memperhatikan kita.

Hidup ini adalah belantara keinginan, sedangkan setan sudah siap untuk mengembus-embuskan di setiap keinginan untuk membuat kita mengejar sesuatu yang bukan milik kita. Kalolah kita sudah menjadi kendaraan setan untuk mengejar yang berbau hawa nafsu maka tak akan ada lagi ikhlas, tak ada lagi sabar. Ketika keinginan dipenuhi oleh setan, maka yang bermain adalah hawa nafsu. Nauzubillahi min dzalik.

Sekarang, sudahlah jangan tangisi yang bukan milik kita, karena itu bukan yang terbaik buat diri kita. Dan bersyukurlah bahwa ia tidak menjadi milik kita, karena memang ia tidak pas buat kita. Yang pasti apapun yang Allah berikan pada kita, percaya deh, bahwa itulah yang terindah, itu lah yang terbaik buat kita.

Terkadang kita lebih sering melihat pintu yang tertutup, lalu menangisi mengapa pintu itu tertutup. Lalu kita menggedor-gedor pintu itu kembali pada sang pemilik pintu, agar mau lagi membuka pintu dan memberi kita kesempatan. Dan anehnya kita meraung-raung dibalik pintu, seakan mengemis dibalik pintu. Betapa bodohnya kita. Sayannya kita malah merasa tidak bisa lagi melihat indahnya dunia ketika melihat pintu itu tertutup. Sedangkan kita lupa bahwa masih banyak pintu lain yang terbuka dan lebar, serta memberi ruang lebih luas agar kita dapat melihat dunia dari sudut yang lebih indah dan lebih segar sambil menikmati segarnya oksigen yang dihirup, menikmati segarnya air melewati tenggorokan. Huuh indahnya ya Allah. Inikah nikmat yang kami lupakan.

So, perjalanan kita masih panjang. Kita masih perlu banyak energi untuk terus memantaskan diri. Masih banyak yang harus kita lakukan. Allah hanya mengambil satu orang yang tidak lagi kita butuhkan. Bukankah Allah memberikan kita apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. So bersemangatlah, membuka lembaran kehidupan baru. Kehidupan yang akan jauh lebih indah jikalau kita mensyukuri atas nikmat tarikan nafas yang diberikan.

Jadi, tidak perlu lagi menangisi orang yang sudah tidak dibutuhkan lagi, karena Allah tahu orang itu memang sudah tidak layak lagi bagi kehidupan kita, bab dimana dia aktornya sudah sepatutnya berhenti karena hanya akan memenuhi halaman kita, apalagi menambah tinta merah di buku tersebut. yang pasti tak ada yang diambil oleh Allah, kecuali diganti dengan yang lebih baik. Mari siapkan hati yang baru, untuk jiwa yang baru. Bangun dan jemputlah! Tenang waktu terus berjalan. Hidup kita sudah terlalu berharga untuk disia-siakan. Karena ia Cuma satu kali. So Do it The Best!..


Tidak ada komentar: